Jejak Sejarah yang Menghiasi Kelurahan: Melihat Kembali Perjalanan Berharga Kelurahan Ngadirejo

  • Aug 28, 2023
  • ATHO'I MUHAMAD

Jejak Sejarah yang Menghiasi Kelurahan: Melihat Kembali Perjalanan Berharga Kelurahan Ngadirejo

Kelurahan Ngadirejo terletak diujung paling utara wilayah Kota Blitar lebih tepatnya 5 Km dari pusat Kota Blitar, dengan wilayah seluas kurang lebih 1,91 km² terdiri dari dua lingkungan yaitu Lingkungan Ngadirejo dan Lingkungan Bangsongan dengan Batas Wilayah :

            Sebelah Utara              : Desa Bangsri Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar.

            Sebelah Selatan           : Kelurahan Tanggung Kecamatan Kepanjenkidul

            Sebelah Timur            : Kelurahan Sentul Kecamatan Kepanjenkidul

            Sebelah Barat              : Desa Jeding dan Desa Gledug Kecamatan Sanankulon

 

 Dilihat dari potensi sumber daya manusia, Kelurahan Ngadirejo terdapat total Penduduk sejumlah 3.760 orang, dengan laki-laki sebanyak 1.877 jiwa, dan perempuan sebanyak 1.883 jiwa, serta jumlah kepala keluarga sebanyak 1.232 KK. Mayoritas warga bermata pencaharian sebagai petani, hal ini dapat diketahui dari jumlah lahan sawah seluas 88 Ha, atau setengah wilayah Kelurahan Ngadirejo adalah lahan sawah basah.

 

  1. ASAL-USUL BERDIRINYA DESA NGADIREJO

Pada jaman dahulu kira-kira awal abad 18 ada seorang prajurit pengikut Pangeran Diponegoro yang berasal dari Telatah Ponorogo yang Bernama MAD KARSO, dialah yang menurut penduduk setempat menceritakan bahwa wilayah Kelurahan Ngadirejo berawal dari dibukanya lahan pemukiman penduduk pelebaran dari Lingkungan. Jati Malang Kelurahan Sentul. Waktu itu Ngadirejo adalah sebuah hutan yang berada disebelah barat Jati Malang karena penduduk Jati Malang sudah mulai padat dan ramai, maka untuk melebarkan wilayah Mbah Mad Karso sebagai pendatang baru membuka sebuah perkampungan yang dinamakan NGUDIREJO yang artinya berusaha supaya ramai dan perkiraan sekitar tanggal 6 Nopember 1818 dengan berkembangnya jaman akhirnya nama Ngudirejo dibakukan menjadi Dukuh NGADIREJO.

Tahun berganti tahun karena semakin banyaknya penduduk yang bermukim di wilayah Ngadirejo dan yang bermukim di sebelah Utara yakni di Dukuh Tambak Rejo Desa Bangsri dimana sebelah barat masih belum ada perkampungan, maka seorang keturunan dari Mbah MAD KARSO, beliau bernama SO MERTO memperluas wilayah lagi yang istilah Jawa Kuno adalah Ngesong/ngelar. Kata Ngesong atau ngelar juga dikuatkan dengan adanya legenda cerita bahwa diujung utara wilayah terdapat sebuah perbukitan di Dukuh Banjarjo yang diratakan menjadi dataran rendah yang luas.

Setelah adanya perkembangan dari waktu ke waktu dan juga dikarenakan lidah masyarakat jawa yang sulit mengartikulasi awalan kata “NG” sehingga nama yang semula ngesong berubah lambat laun menjadi bangsong dan berubah lagi menjadi bangsongan, yang akhirnya menjadi Dukuh Bangsongan sampai sekarang.

KARSA yang artinya tekad atau kehendak, HANGUDIREJO artinya menciptakan/membuat suasana menjadi ramai atau maju, sehingga bisa diartikan bahwa KARSA HANGUDI REJO adalah tekad untuk mewujudkan suatu wilayah menjadi maju dan ramai dan memiliki tanah pertanian yang subur yang merupakan sumber penghidupan masyarakat Desa Ngadirejo yang didalamnya terdapat 2 lingkungan yang makmur.

Dari sejarah tersebut setelah wilayah Desa Ngadirejo semakin ramai, MBAH MAD KARSO meninggal dunia dan tidak diketahui tahunnya kapan beliau meninggal dunia, dan pesarean atau makam Mbah Mad Karso yang berada di pojok Timur Laut pemakaman umum Lingkungan/Dukuh Ngadirejo dan menurut mitos makam tersebut dijadikan keyakinan bahwa siapa saja penduduk Desa Ngadirejo yang akan memulai pekerjaan atau melamar pekerjaan harus nyekar dahulu ke pesarean MBAH MAD KARSO. Sedangkan di Lingkungan Bangsongan Mbah SO MERTO dijadikan mitos sebagai danyang Sumberjajar.

  1. RIWAYAT PEMERINTAHAN KELURAHAN NGADIREJO

Pada awal berdirinya Desa Ngadirejo Tahun 1818 termasuk tergabung kedalam wilayah Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar bersama dengan Desa Bangsri, Desa Ndayu dan desa desa sekitar. Dan pada tahun 1982 terdapat sebuah Kebijakan dari Pemerintah bahwasanya adanya perluasan wilayah Pemerintah Kota Blitar wilayah, dimana Desa Ngadirejo menjadi salah satu wilayah yang dimasukkan dan digabung dengan wilayah Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar. yang tertuang dalam Peraturan Pemerintah Nomor 48 Tahun 1982 tentang perubahan batas wilayah Kotamadya Daerah Tingkat II Blitar.

Dengan masuknya Desa Ngadirejo yang semula dari Kecamatan Nglegok Kabupaten Blitar ke Kecamatan Kepanjenkidul Kota Blitar sehingga berubah juga yang semula Desa Ngadirejo menjadi Kelurahan Ngadirejo. Perubahan tersebut Dibutuhkan waktu sekitar tiga tahun transisi, sehingga pada tahun 1985 barulah menjadi Kelurahan Ngadirejo yang seutuhnya menjadi bagian dari Pemerintah Kota Blitar.

Daftar riwayat Susunan Lurah Ngadirejo sebagai berikut:

Sebelum Masuk Wilayah Kota Blitar :

  1. MUNOJO

Tahun 1901 s/d  1941

  1. MAT NGALIM

Tahun 1941 s/d 1984

Setelah Masuk Wilayah Kota Blitar :

  1. DARMOREJO

         Tahun 1985 s/d 1988

  1. SUSILO DWI ATMOKO

Tahun 1988

  1. WANINTO

 Tahun 1988 s/d 1995

  1. HARIYANTO, SE

         Tahun 1995 s/d 1997

  1. MUH.HADI MASKUN

Tahun 1997 s/d 2000

  1. SOEPRAJITNO

Tahun 2000 s/d 2007

  1. RUSLI EFENDI

Tahun 2007 s/d 2009

  1. MUH.DOFIR,S.Sos.

        Tahun 2009 s/d 2013

  1. NURJIAT,S.Sos.

 Tahun 2013 s/d 2018

  1. SUNOTO, SE

Tahun 2019 s/d 2021

  1. HARIYANTO WIBOWO, S.IP,,M.A.P.

Tahun 2021 s/d sekarang

 

  1. PERTEMPURAN SEHARI DI NGADIREJO

Kota Blitar terkenal dengan Pemberontakan PETA pada tanggal 14 Februari 1945 dengan dipimpin Soedanco Soeprijadi, akan tetapi banyak warga yang belum mengetahui, bahwa di Ngadirejo juga pernah menjadi bagian penting sejarah Indonesia di dalam mempertahankan Kemerdekaan dari Belanda, peristiwa tersebut terkenal dengan nama Pertempuran sehari, Pertempuran sengit jarak dekat tantara Pasukan TRIP ( Tentara Republik Indonesia Pelajar) dan Pasukan Patroli Belanda, Princess Ireene Brigade dipimpin oleh Kapiten Besouw yang dihadang disepanjang jalan di desa Ngadirejo dengan membawa korban dari kedua belah pihak.

Dapat kita pahami bahwa kurun waktu Perang Kemerdekaan mulai berkecamuk, hampir dimana-mana tempat, khususnya di Jawa terjadi pertempuran antara Pasukan Tentara Indonesia dengan Pasukan Tentara Belanda bermarkas, dan pertempuran antara Pasukan Gerilya yang timbul secara spontanitas dikalangan rakyat maupun masyarakat pemuda pelajar, yang tidak mau ketinggalan dalam mempertahankan kemerdekaan  dan mengusir Belanda dari bumi Indonesia ini.

Demikian halnya, kisah pertempuran melawan Pasukan Tentara di Desa Ngadirejo, adalah bersifat pertempuran penghadangan yang dilakukan oleh Pasukan Pemuda Pelajar tergabung dalam TRIP, dengan maksud mengadakan penyerangan terhadap Pasukan Patroli Tentara Belanda yang biasa menggunakan rute jalan aspal antara Kota Blitar dengan Penataran, Kecamatan Nglegok dalam rangka operasi pembersihan atau yang pada waktu itu lebih dikenal dengan istilah “Penggerosokan”, di dukuh atau di desa-desa yang dianggap oleh Belanda sebagai Pos-Pos Gerilya.

Peristiwa pertempuran antara pasukan TRIP dengan tentara Belanda yang terjadi di Ngadirejo tanggal 15 April 1949 ini cukup istimewa mengingat pasukan patroli Belanda sejak itu diperkuat dengan adanya pasukan Princess Ireene Brigade yang dipersenjatai dengan peralatan tempur modern.

Menurut keterangan penduduk, pasukan tentara Belanda yang berpatroli ke jurusan utara terdapat sedikitnya dua peleton dengan persenjataan lengkap modern dan kendaraan truck termasuk brencarier. Pasukan TRIP dengan taktik penghadangan perang gerilya mengalami mimim korban, tetapi sebaliknya dari pihak Belanda tidak menyangka akan menghadapi perlawanan pasukan TRIP di Desa Ngadirejo.

Anggota Trip yang gugur dalam pertempuran melawan Garde Regimen Princess Irene Brigade Tentara Belanda di Ngadirejo adalah :

  1. Soebandi
  2. Moeljadi C
  3. Djakfar Arief
  4. Karjadi
  5. Soejono B
  6. M Soeminto
  7. Moestafa

Peristiwa heroik yang jarang terjadi ini perlu dikenang dan diketahui oleh masyarakat umum dan generasi mendatang sebagai bagian penting dalam sejarah Republik Indonesia dan begitu gigihnya warga masyarkat terkhusus di Ngadirejo di dalam mempertahankan Kemerdekaan Indonesia.

Setiap Tanggal 16 Agustus malam, warga sekitar selalu mengadakan tradisi baritan di area monumen TRIP sebagai wujud syukur dan sebagai bentuk penghormatan terhadap jasa-jasa pahlawan yang gugur.